PILIHAN TERAKHIR PGRI ADALAH DEMO NASIONAL BILA DIPERLUKAN

ERORAspirasi Guru Nasional-Riil nama nama guru yang berhak menerima TPG juga sudah dikeluarkan Kemdikbud melalui SK TPG PNSD tahun 2014 dan SK Kurang Bayar TPG PNSD tahun 2010-2013. Payung hukum untuk mencairkannya juga sudah ada, yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 61/PMK.07/2014 tanggal 3 April 2014 tentang Pedoman Umum dan Alokasi Tunjangan Profesi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota Tahun Anggaran 2014.

Fakta pencairan di lapangan menyimpang dari payung hukum dimaksud diatas. Misalnya di Kabupaten Banyuwagi pencairan TPP untuk Triwulan 1 tahun 2014 hanya dicaikan 2 bulan yang seharusnya cair 3 bulan untuk triwulan 1 tahun 2014 ditambah 2 bulan (hutang negara TPG PNSD tahun 2010-2013), jadi keseluruhannya seharusnya 5 bulan masuk ke rekening guru.

Di Kabupaten Bondowoso, Jember dan lainnya hanya dicairkan 3 bulan untuk TPG triwulan 1 tahun 2014, juga terlambat masuk ke rekining guru. Yang seharusnya 5 bulan sudah masuk rekening guru bulan April 2014 kemaren. Semua Penerima TPG PNSD di Jawa Timur mengalami hal yang sama, padahal pusat sudah kirim uang TPG untuk Triwulan 1 tahun 2014 ditambah hutang TPG PNSD tahun 2010-2013 ke kas daerah seluruh Pemerintah Kabupaten dan Kota.

Melalui Aspirasi Guru ini PGRI harus tegas satukan suara, di tujukan kepada Mentri Pendidikan untuk segera bertindak tegas dan menentukan sikap, tegoran berulang kali terhadap Pemerintah sudah tidak tajam lagi, pilahan terakhir adalah Demo Nasional bila diperlukan. Aspirasi Guru untuk Guru.

Aspirasi Untuk BKN Pusat dan seluruh BKD

Spesial K2Tindak lanjut kebijakan pemerintah via BKN Pusat yang tertuang dalam Surat Kepala BKN bernomor: K.26-30/V.23-4/99 belum dilaksanakan secara menyeluruh di Pememerintah Kabupaten dan Kota. hal seperti ini terkesan pemerintah kurang serius menangani CPNS Katagori 2. sejak Pengumuman Hasil Tes K2 dipublikasikan yang hasilnya disebut sebut telah final ternyata belum final. Pemberitaan masih banyak melukai perasaan seluruh CPNS K2 yang dinyatakan LULUS TES.mulai dari pemberitaan data yang dimanipulasi, data siluman, data bodong dan sebagainya. sangat disayangkan bila tuduhan tersebut bersumber dari provokator yang terorganisir yang sengaja menghancurkan system yang telah berjalan apik di lembaga pemerintah seperti Menpan dan BKN Pusat.BKN Pusat harus bijaksana dan dapat membedakan mana yang benar dan mana yang fitnah terkait pengaduan CPNS K2 yang lulus tes. Semuanya tergantung pemerintah untuk memilih “mengurus provokator atau menuntaskan CPNS K2”.Hingga saat tulisan ini dipublikasikan, terkesan banyak oknum mencela hasil pelaksanaan CPNS K2.sangat disayangkan celaan tersebut menggelinding seperti bola berduri yang melukai hati nurani anak negeri yang siap mengabdi pada negeri yang berazaskan Pancasila.Sejak BKD diseluruh Kabupaten mengumumkan Daftar Nominatif Tenaga Honorer K2 hingga Pengumuman Hasil Tes K2 secara nasional,pengumumnya mempunyai Kekuatan Hukum. Yang lulus tes CPNS K2 jangan ditelantarkan terkatung katung,lebih cepat verifikasi dan pemberkasannya lebih baik. Admin Aspirasi Guru.

Guru Honorer K2 Siap Untuk Pemberkasan Kendati Pengumuman Hasil Tes Tertunda

Stack of DocumentsASPIRASI GURU – Walaupun pengumuman hasil tes CPNS jalur K2 tertunda, semangat kerja Guru Honorer K2 dan Guru yang lain di Jawa Timur terbaca masih tinggi dan kondusif. Bahkan guru honorer K2 di Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur telah mempersiapkan fail seperti Daftar Kehadiran (absen), Surat Kelakuan Baik, Ijazah Terakhir, dll yang nantinya digunakan untuk pemberkasan, kendatipun hasil tes CPNS K2 diundur lagi.

Nama Peserta Yang Lulus Tes K2

Menpan Hapus Tenaga Honorer di Instansi Pemerintah

Menpan RB

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Azwar Abubakar memastikan tenaga honorer pegawai negeri sipil (PNS) tak boleh ada lagi di lingkungan instansi pemerintah. Azwar mengatakan sebagian besar tenaga honorer diangkat menjadi pegawai di instansi pemerintah karena adanya hubungan keluarga dengan pejabat tertentu.

“Jadi, untuk apa kita belain yang enggak bener?” ujar Azwar kepada Tempo di kantornya, Kamis, 23 Januari 2014. Menurut dia, perekrutan tenaga honorer sudah dilarang melalui peraturan menteri sejak tahun 2005.

“Dari dulu memang tidak ada dasar hukumnya,” kata Azwar. Dia mengatakan tak ada pelanggaran hak konstitusional yang terjadi terhadap tenaga honorer.

Pegawai honorer yang sebagian besar diangkat untuk bekerja, ujar Azwar, memiliki hubungan keluarga dengan pejabat instansi atau pemerintah daerah. “Ini kan yang berlaku dari dulu dan mau kami ubah,” ujar dia.

“Lagi pula mereka kan selama ini bekerja dan digaji, yang rugi siapa selama ini?” kata Azwar. UU ASN, menurut Azwar, ingin menjamin agar semua orang memiliki akses yang sama untuk menjadi pegawai pemerintah.

Selama ini mereka yang memiliki link keluarga di instansi pemerintah diselundupkan untuk menjadi pegawai honorer. “Sekarang kami enggak mau itu (honorer) ada lagi,” kata dia.

Soal nasib pegawai sistem honor yang sudah telanjur bekerja di sekitar 73 kementerian lembaga serta 530 pemda hingga kini, Azwar menyerahkannya pada setiap instansi. “Biar mereka yang memutuskan sesuai kebutuhan dan anggaran.”

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2014/01/23/173547787/Menpan-Hapus-Tenaga-Honorer-di-Instansi-Pemerintah

Dari Benci, Kini Tertantang Ngajar Suku Anak Dalam

sI1SE79UWgJAKARTA – Memperoleh pendidikan merupakan hak seluruh warga negara, tidak terkecuali mereka yang berada di daerah terpencil sekalipun. Namun, belum semua pihak yang merasa terpanggil untuk mengabdikan diri dan berpartisipasi dalam memajukan pendidikan di daerah tertinggal.

Hal tersebut tidak berlaku bagi Tri Rini Widiyastuti. Sebagai transmigran di Jambi, Rini justru tergerak untuk mengabdikan diri dalam meningkatkan pendidikan penduduk asli di sana, yakni Suku Anak Dalam.

Tindakan Rini pun menuai apresiasi dari pemerintah, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sebagai bentuk penghargaan, Rini pun merah Anugerah Peduli Pendidikan (APP) 2013 kategori perorangan/individu bersama sembilan orang lainnya.

“Dulu saya benci sekali dengan anak-anak Suku Anak Dalam. Mereka suka mencuri dan mengganggu para transmigran. Bahkan, setiap kali mendengar acara mereka di dekat tempat tinggal saya, saya akan langsung menutup pintu,” kata Rini di Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (29/11/2013).

Kebencian ibu dua orang anak itu pun berubah menjadi rasa penasaran ketika sebuah PT di daerah tersebut mencari tenaga pengajar. Kala itu, Rini ditawari untuk mengajar pada tingkat PAUD.

“Mereka mencari tenaga pengajar untuk PAUD. Tapi saya merasa tertantang untuk mengajar Suku Anak Dalam. Penasaran untuk bisa membuat mereka lebih baik,” tuturnya.

Pada sekolah yang berlokasi di Kecamatan Air Hitam, Desa Pematang Rabau, Kabupaten Sarolangu, Jambi itu, Rini Mengajarkan berbagai hal. Mulai dari hal yang sederhana berupa cara mandi dan menggosok gigi, sopan santun, hingga membaca, menulis, dan berhitung.

“Di sana kami buat kelompok dasar, menengah, dan lanjutan. Yang kami lakukan bukan untuk mengubah kebudayaan mereka tapi bagaimana agar mereka mampu bertahan hidup di era modern ini,” ungkap Rini.

Menurut Rini, peserta didik di sekolah binaan PT Astra Agro Lestari itu terdiri atas beragam usia. Mulai dari umur lima tahun hingga 15 tahun. Namun, kata Rini, mereka yang telah mampu membaca atau berada di tingkat lanjutan biasanya enggan meneruskan pendidikan di sekolah formal.

“Tapi ada satu murid saya yang sangat pintar, namanya Gemengseng. Dia memang anak jenius, beda dengan teman-teman lainnya. Pemerintah daerah (Pemda) pun berencana membinanya,” urai wanita kelahiran Bantul, 5 Agustus 1985 itu bangga.

Empat tahun menjadi guru bagi Suku Anak Dalam bukan hal mudah bagi Rini. Apalagi ketika pertama kali mengajar. Dia mengaku sempat merasa putus asa dan ingin berhenti mengajar.

“Dua hari pertama mengajar saya sudah tidak kuat. Mereka nakal dan tidak mau mendengarkan saya. Tapi di hari ketiga ketika saya tidak masuk, Gemengseng dan teman-temannya datang ke rumah saya untuk meminta kembali mengajar. Saya setuju dengan syarat mereka harus menurut. Karena mereka menyanggupi, saya pun kembali mengajar,” papar wanita berkerudung itu.

Meski susah diatur, kini para murid Rini sudah mampu bekerja sama dan mau belajar. Metode belajar yang digunakan pun tidak sama. Rini membebaskan para muridnya untuk duduk, berdiri, atau bahkan berbaring selama belajar di kelas.

“Mereka tidak bisa belajar di ruang tertutup, harus di tempat terbuka. Saya juga membebaskan mereka saat di kelas karena ada yang ingin belajar sambil berdiri atau tiduran. Mereka tidak bisa dipaksa, yang penting ada keinginan dari mereka untuk belajar itu sudah bagus,” tutup Rini. (ade)

url : http://kampus.okezone.com

ASPIRASI UNTUK TENAGA HONORER JALUR K2

teropong honorerMunculnya berita dimedia cetak dan dimedia online, adanya rencana demo ratusan  Tenaga Honorer  di beberapa daerah di Jawa Timur yang  tidak terpanggil untuk ikut tes CPNS tahun 2013 lewat jalur K2 yang dijadwalkan tes pelaksanaannya 3 Nopember minggu depan, diharapkan Perintah Daerah dan Pemerintah Pusat  serta organisasi profesi  mempelajari masalahnya secara profesional. Benarkah rencana  pendemo datang dari hati nurani yang benar benar tumbuh dari Tenaga Honorer  yang tidak terpanggil menuju  tes CPNS jalur K2? Atau justru ada pihak lain yang menunggangi dan memfitnah agar tujuan meggagalkan tes CPNS tahun 2013 gagal  hancur lebur dan nantinya disimpulkan bahwa pemerintah tidak berhasil  mengelola K2 menuju CPNS 2013 oleh oknum oknum yang mengatasnamakan komunitas tertentu!
Bagi Tenaga Honorer  yang tidak terpanggil untuk  ikut tes CPNS jalur K2, berpikirlah dengan jernih dan tidak perlu berlebihan berprasangka buruk terhadap pemerintah. Jika ada dan menemukan bukti data yang akurat yang bisa dipertanggung jawabkan, jangan ragu untuk melaporkan. Tapi bila sebaliknya, hanya bertujuan memprofokasi  bisa mengakibatkan merugikan orang banyak, itu berdampak buruk dan membawa nama Tenaga Honorer secara nasional. Semoga tulisan ini bermanfaat.  (Tim Aspirasi Guru)