Dari Benci, Kini Tertantang Ngajar Suku Anak Dalam

sI1SE79UWgJAKARTA – Memperoleh pendidikan merupakan hak seluruh warga negara, tidak terkecuali mereka yang berada di daerah terpencil sekalipun. Namun, belum semua pihak yang merasa terpanggil untuk mengabdikan diri dan berpartisipasi dalam memajukan pendidikan di daerah tertinggal.

Hal tersebut tidak berlaku bagi Tri Rini Widiyastuti. Sebagai transmigran di Jambi, Rini justru tergerak untuk mengabdikan diri dalam meningkatkan pendidikan penduduk asli di sana, yakni Suku Anak Dalam.

Tindakan Rini pun menuai apresiasi dari pemerintah, yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Sebagai bentuk penghargaan, Rini pun merah Anugerah Peduli Pendidikan (APP) 2013 kategori perorangan/individu bersama sembilan orang lainnya.

“Dulu saya benci sekali dengan anak-anak Suku Anak Dalam. Mereka suka mencuri dan mengganggu para transmigran. Bahkan, setiap kali mendengar acara mereka di dekat tempat tinggal saya, saya akan langsung menutup pintu,” kata Rini di Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (29/11/2013).

Kebencian ibu dua orang anak itu pun berubah menjadi rasa penasaran ketika sebuah PT di daerah tersebut mencari tenaga pengajar. Kala itu, Rini ditawari untuk mengajar pada tingkat PAUD.

“Mereka mencari tenaga pengajar untuk PAUD. Tapi saya merasa tertantang untuk mengajar Suku Anak Dalam. Penasaran untuk bisa membuat mereka lebih baik,” tuturnya.

Pada sekolah yang berlokasi di Kecamatan Air Hitam, Desa Pematang Rabau, Kabupaten Sarolangu, Jambi itu, Rini Mengajarkan berbagai hal. Mulai dari hal yang sederhana berupa cara mandi dan menggosok gigi, sopan santun, hingga membaca, menulis, dan berhitung.

“Di sana kami buat kelompok dasar, menengah, dan lanjutan. Yang kami lakukan bukan untuk mengubah kebudayaan mereka tapi bagaimana agar mereka mampu bertahan hidup di era modern ini,” ungkap Rini.

Menurut Rini, peserta didik di sekolah binaan PT Astra Agro Lestari itu terdiri atas beragam usia. Mulai dari umur lima tahun hingga 15 tahun. Namun, kata Rini, mereka yang telah mampu membaca atau berada di tingkat lanjutan biasanya enggan meneruskan pendidikan di sekolah formal.

“Tapi ada satu murid saya yang sangat pintar, namanya Gemengseng. Dia memang anak jenius, beda dengan teman-teman lainnya. Pemerintah daerah (Pemda) pun berencana membinanya,” urai wanita kelahiran Bantul, 5 Agustus 1985 itu bangga.

Empat tahun menjadi guru bagi Suku Anak Dalam bukan hal mudah bagi Rini. Apalagi ketika pertama kali mengajar. Dia mengaku sempat merasa putus asa dan ingin berhenti mengajar.

“Dua hari pertama mengajar saya sudah tidak kuat. Mereka nakal dan tidak mau mendengarkan saya. Tapi di hari ketiga ketika saya tidak masuk, Gemengseng dan teman-temannya datang ke rumah saya untuk meminta kembali mengajar. Saya setuju dengan syarat mereka harus menurut. Karena mereka menyanggupi, saya pun kembali mengajar,” papar wanita berkerudung itu.

Meski susah diatur, kini para murid Rini sudah mampu bekerja sama dan mau belajar. Metode belajar yang digunakan pun tidak sama. Rini membebaskan para muridnya untuk duduk, berdiri, atau bahkan berbaring selama belajar di kelas.

“Mereka tidak bisa belajar di ruang tertutup, harus di tempat terbuka. Saya juga membebaskan mereka saat di kelas karena ada yang ingin belajar sambil berdiri atau tiduran. Mereka tidak bisa dipaksa, yang penting ada keinginan dari mereka untuk belajar itu sudah bagus,” tutup Rini. (ade)

url : http://kampus.okezone.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s