• PORTAL NASIONAL RI

  • DIKMEN KEMENDIKBUD

  • Kalender Guru

    Agustus 2015
    M S S R K J S
    « Mei    
     1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    3031  

  • Tulisan Teratas

  • RSS Okezone

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • RSS NEWS KOMPAS

    • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.
  • Tag

    Aaspirasi Guru Jatim, Aspirasi Guru Situbondo, Aspirasi Guru Surabaya, Aspirasi Guru Madiun, Aspirasi Guru Banyuwangi, Aspirasi Guru Jember, Aspirasi Guru Bondowoso, Aspirasi Guru Probolinggo, Aspirasi Guru GTT, Aspirasi Guru Gresik, Aspirasi Guru, Sertifikasi Guru 2011, Guru Sertifikasi 2011, Calon Guru Sertifikasi, Aspirasi Guru Jombang, Aspirasi Guru Kediri, Aspirasi Guru Sumenep, Aspirasi Guru Pamekasan,Aspirasi Guru Malang, Aspirasi Guru Batu

H-2 UAS 2015 SIAP DILAKSANAKAN, TPG TRI-1 2015 DI SITUBONDO TIDAK SIAP CAIR

fulus_guruASPIRASI GURU JAWA TIMUR – Hingga detik ini H-2 Pelaksanaan UAS kelas 6 tahun 2015,keterlambatan pencairan dana TPG di Kabupaten Situbondo menjadi topik tertajam dikalangan Guru di Kabupaten Situbondo. Rumor di kalangan guru di Situbondo yang menyebutkan bahwa tidak dicairkannya TPG bulan anuari,Pebruari,Maret 2015 diduga tidak ada keseriusan dari Oknum di DPKAAD sebagai pengelola Kas Daerah di Kabupaten Situbondo untuk segera mencairkan TPG yang nyantol di Kasda. beberapa Kepala sekolah yang tidak mau disebutkan namanya mengatakan ke Aspirasi Guru via telepon , Pengurus PGRI kabupaten Situbondo mengatakan”saya selalu merayu rayu Bu Tricahya Ningsih agar segera Dana TPG yang mengendap di Kas Daerah di cairkan sesuai mekanisme dan aturan yang berlaku.pernyataan ini disampaikan sendiri oleh pengurus PGRI Kabupaten Situbondo kepada para peserta Penguatan Kompetensi Kepala sekolah di aula panji 13 Mei 2015.Sambung Kepala sekolah dan menutup pembicaraannya.Fakta yang dialami oleh Guru-Guru di tanah air, pencairan TPG sejak awal sertifikasi guru diberlakukan oleh pemerintah, dana pencairannya dari Kas Daerah selalu terlambat dari aturan jadwal yang ada. Berdasarkan Petunjuk Teknis Penyaluran Tunjangan Profesi Guru , Tunjangan profesi disalurkan kepada rekening guru setiap tiga bulan sekali. Bagi seluruh guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) lulusan program sertifikasi tahun 2006 sampai dengan tahun 2014 dibayarkan melalui dana transfer daerah. Pembayarannya antara tanggal 9 – 16 setiap triwulan. Jadwal pencairan tunjangan profesi kerekening guru dilakukan berdasarkan tenggang waktu, yaitu Triwulan I dibayarkan antara tanggal 9 – 16 April , Triwulan II dibayarkan antara tanggal 9 – 16 Juli , Triwulan III dibayarkan antara tanggal 9 – 16 Oktober , dan Triwulan IV dibayarkan antara tanggal 9 – 16 Desember.Pencairan TPG di daerah terkait langsung oleh kewenangan Bupati Kepala Daerah sebagai pengambil kebijakan, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten dan Pengelola Kasda Kabupaten. Jika Dana sudah masuk dari pusat ke Kas Daerah, apa susahnya mencairkan dana tersebut kepada Guru-Guru yang berhak menerimanya? Data guru penerima sudah jelas ada, besaran rupiahnya tertulis jelas. Hanya ada yang tidak pernah dijelaskan, mengapa TPG elalu terlambat dicairkan? ada apa?

Persoalan Guru Kapan Selesai?

Persoalan guru yang seharusnya segera diselesaikan adalah (1) kekurangan guru, terutama kekurangan guru SD yang sangat besar, (2) guru honorer yang penyelesainnya tidak jelas, bahkan hak-haknya yang secara eksplisit diatur dalam PP Nomor 74 Tahun 2008 juga dibaikan, (3) pencairan tunjangan profesi yang selalu terlambat, bahkan persyaratannya semakin sulit dan tidak wajar, (4) ketentuan pemberhentian sementara/pemberhentian jabatan fungsional pengawas sekolah berdasarkan Permenegpan dan RB Nomor 21 tahun 2010 semakin terancam, (5) sistem kenaikan pangkat dan jabatan guru yang tidak dapat dilaksanakan, (6) dan sebagainya. Diduga kemendikbud menerbitkan berbagai aturan yang justru membuat guru tertekan dan tidak semakin profesional. Guru akan terkesan di arahkan menjadi petugas administrasi pembelajaran.

Cuplikan dari tulisan “Pendidikan Belum Cerah” di http://www.pgri.or.id/berita-terkini/berita-terkini/pendidikan-belum-cerah

INSPIRASI ANIES BASWEDAN

 

 

Pesan Mendikbud Anies Baswedan Untuk Pelaksanaan Ujian Nasional

pesan-mendikbud-anies-baswedan-untuk-pelaksanaan-ujian-nasional

UN tidak lagi dijadikan sebagai penentu kelulusan. Itu perubahan mendasar yang kita lakukan.
Ujian Nasional (UN) sudah berjalan lebih dari 12 tahun, selama ini UN menjadi salah satu perhatian utama dalam pendidikan.

Kini, kita melakukan perubahan UN. Apa perbedaan mendasar pada tahun ini?
UN tidak lagi dijadikan sebagai penentu kelulusan. Itu perubahan mendasar yang kita lakukan.

Mengapa itu harus dilakukan?

Pertama, kita memiliki kepentingan untuk mengukur pencapaian anak di dalam proses belajar mengajar. Dalam kenyataannya ketika usaha mengukur itu dikaitkan dengan kelulusan maka senyatanya kita menemukan di lapangan banyak sekali sekolah, guru, siswa yang belajar semata-mata agar angkanya tinggi. Supaya apa? Supaya lulus.

Bahkan di beberapa tempat di banyak tempat yang muncul justru kecurangan. Bersama-sama. Efek luar biasa yang sangat buruk bagi pendidikan kita.

Karena itu mulai sekarang UN dipisahkan dari kelulusan. Penentuan kelulusan ada pada sekolah.
Kita percayakan pada kepala sekolah, pada guru, untuk menilai setiap anak dari seluruh mata pelajaran termasuk di dalam perilakunya.

Lalu UN dipakai untuk menilai capaian siswa di daerah itu dibandingkan dengan nasional atau dibandingkan dengan daerah yang lebih luas.

Jadi kita ingin agar UN berubah. Dari alat menguji hasil belajar kita ingin menjadikan ini sebagai alat mengajar.

Apa saja yang kemudian berbeda sekarang?

Angkanya akan diterjemahkan secara kualitatif, deskriptif. Misalnya kalau anak dapat nilai delapan artinya apa, dijelaskan. Nanti dalam laporannya ada penjelasannya. Kalau angkanya enam artinya apa. Angkanya lima artinya apa. Jadi setiap siswa bukan hanya menerima angka tapi juga menerima penjelasan bagi orangtua, bagi guru. Ini membantu untuk memahami dimana sebenarnya kekuatan dan kelemahan anak.

Pelaporan UN nanti bukan hanya saja nilai agrerat atau komposit. Misalnya matematika setiap seorang anak mendapat nilai delapan maka kita akan deskripsikan apa saja komponen matematikanya. Misalnya aljabar, aritmetik, geometri, soal cerita. Itu semua akan ditunjukkan capainnya.

Jadi guru dan sekolah bisa mengetahui dimana letak kekuatan dan kelemahan guru dan sekolah serta siswa di dalam mempelajari matematika.

Karena kita ingin mendorong perilaku positif di dalam menjalankan ujian. Maka bagi mereka yang ingin memperbaiki nilainya bisa mengulang UN di tahun berikutnya.

Semangatnya bukan ujian untuk menghukum, tapi semangatnya adalah melakukan ujian untuk bisa meraih kompetensi, mengukur penguasaan.
Dan dengan begitu perilakunya akan lebih positif.

Jadi kita berharap dengan perubahan UN ini maka suasana pendidikan di Indonesia menjadi suasana yang lebih baik.

Hasil UN ini akan dipakai pemerintah melakukan pemetaan. Bagaimana pemerintah bisa membantu memfasilitasi sekolah-sekolah untuk meningkatkan kompetensinya. Terutama guru, jika hasil UN tak mencerminkan kenyataan.

Karena itu tolong jaga agar UN ini dijalankan dengan jujur, jadi kita punya gambaran yang sebenarnya.
Dan dengan hasil UN ini lalu pemerintah dapat membantu meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar, baik dalam aspek metodologi maupun dari aspek substansi. Dan dengan melihat UN yang detail itu maka kita bisa sama-sama meningkatkan kualitas pendidikan kita.

Buat teman-teman siswa SMP, SMA yang akan mengikuti ujian. Buat sekolah, guru, kepala sekolah, orangtua, dinas dan semuanya.

Saya mengharapkan sekali bahwa UN kali ini dijalankan penuh kejujuran.
Dan kepada semua pihak jangan kotori siswa kita dengan aktivitas yang curang. Jauhkan itu dari sekolah-sekolah kita.

Buat teman-teman yang nanti akan mengambil ujian, Anda akan hidup di masa depan. Anda jangan membayangkan Anda SMA terus. 20 tahun lagi, 30 tahun lagi Anda akan menengok kepada hari ini. Dan nanti ketika Anda sudah dewasa, insya Allah Indonesia sudah berubah. Pada saat itu contek-menyontek, curang ujian, insya Allah sudah bukan barang yang normal.

Suatu saat akan Anda nanti akan ditanya oleh anak, oleh lingkungan. Dulu tahun 2015 ikut UN ya? Apakah Anda ikut curang di tahun 2015. Kelak Anda dewasa Anda bisa menjawab tidak.
Di saat Indonesia ujian banyak yang curang, saya memilih untuk jujur.

Di saat curang dianggap normal saya memilih untuk mengerjakan penuh integritas.
Jadilah anak-anak Indonesia yang menjaga amanat kejujuran. Jadilah anak Indonesia yang menjaga integritas. Mungkin hari ini Anda dianggap aneh bila mengatakan saya mau ujian dengan jujur. Tapi pastilah Anda yakin di masa yang akan datang Anda bagian dari masa depan saat itu, Anda akan merasa saya bagian yang membuat Indonesia Baru.

Buat Sekolah, buat semua pihak yang menyelenggarakan UN ini tolong jaga, selenggarakan UN dengan penuh integritas. Dapatkan hasilnya untuk memperbaiki pendidikan. Bukan untuk siapa-siapa. Bukan untuk saya, bukan untuk kepala dinas, bukan untuk kepala sekolah, bukan guru tapi demi masa depan anak-anak kita di Indonesia.

Buat kepala sekolah jika di dalam proses UN ini dijalankan dengan baik, kejujuran dijaga, ketertiban dijaga, penyelenggarannya dilakukan dengan amat baik. Maka hasilnya justru memudahkan bagi pemerintah untuk membantu meningkatkan kualitas sekolah yang Anda pimpin.

Bila hasil ujian semata-mata dipandang sebagai evaluasi kinerjanya bukan dipandang sebagai alat untuk meningkatkan kinerja pendidikan, nanti berbagai macam cara yang selama ini kita lihat, kecurangan –kecurangan itu akan terjadi.
Jadi saya berharap sekali kepada Kepala sekolah untuk menjaga integritas ujian itu.

Ke depan pemerintah justru akan menilai bukan saja aspek capaian nilai dari bidang-bidang studi yang diujikan.

Pemerintah juga akan menilai komponen integritas dari pelaksanaan ujian itu. Jadi nanti kita akan memiliki Indeks integritas.
Indeks integritas inilah yang justru ingin kita tonjolkan. Salah satu masalah terbesar di Indonesia adalah soal integritas. Efeknya kita lihat banyak sekali korupsi. Dan kalau kita ingin mengajarkan itu mulainya dari mana? Dari rumah dan dari sekolah.

Karenanya sekolah kita harus menjadi sekolah yang berintegritas. UN adalah salah satu kesempatan untuk mengukur integritas itu.
Nanti sekolah-sekolah yang angka integritasnya tinggi adalah sekolah-sekolah yang justru akan mendapat apresiasi dari pemerintah.

Pemerintah akan mendorong para Kepala Sekolah, para guru yang menjaga integritas untuk bisa menjadi contoh bagi guru lainnya, bagi dunia pendidikan dan bagi masyarakat.

Ke depan UN hasilnya ada dua komponen: capaian di bidang studi dan capaian dalam komponen integritas.

Sumber : http://aniesbaswedan.com/tulisan/Pesan-Mendikbud-Anies-Baswedan-Untuk-Pelaksanaan-Ujian-Nasional#

PILIHAN TERAKHIR PGRI ADALAH DEMO NASIONAL BILA DIPERLUKAN

ERORAspirasi Guru Nasional-Riil nama nama guru yang berhak menerima TPG juga sudah dikeluarkan Kemdikbud melalui SK TPG PNSD tahun 2014 dan SK Kurang Bayar TPG PNSD tahun 2010-2013. Payung hukum untuk mencairkannya juga sudah ada, yaitu Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 61/PMK.07/2014 tanggal 3 April 2014 tentang Pedoman Umum dan Alokasi Tunjangan Profesi Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota Tahun Anggaran 2014.

Fakta pencairan di lapangan menyimpang dari payung hukum dimaksud diatas. Misalnya di Kabupaten Banyuwagi pencairan TPP untuk Triwulan 1 tahun 2014 hanya dicaikan 2 bulan yang seharusnya cair 3 bulan untuk triwulan 1 tahun 2014 ditambah 2 bulan (hutang negara TPG PNSD tahun 2010-2013), jadi keseluruhannya seharusnya 5 bulan masuk ke rekening guru.

Di Kabupaten Bondowoso, Jember dan lainnya hanya dicairkan 3 bulan untuk TPG triwulan 1 tahun 2014, juga terlambat masuk ke rekining guru. Yang seharusnya 5 bulan sudah masuk rekening guru bulan April 2014 kemaren. Semua Penerima TPG PNSD di Jawa Timur mengalami hal yang sama, padahal pusat sudah kirim uang TPG untuk Triwulan 1 tahun 2014 ditambah hutang TPG PNSD tahun 2010-2013 ke kas daerah seluruh Pemerintah Kabupaten dan Kota.

Melalui Aspirasi Guru ini PGRI harus tegas satukan suara, di tujukan kepada Mentri Pendidikan untuk segera bertindak tegas dan menentukan sikap, tegoran berulang kali terhadap Pemerintah sudah tidak tajam lagi, pilahan terakhir adalah Demo Nasional bila diperlukan. Aspirasi Guru untuk Guru.

Aspirasi Untuk BKN Pusat dan seluruh BKD

Spesial K2Tindak lanjut kebijakan pemerintah via BKN Pusat yang tertuang dalam Surat Kepala BKN bernomor: K.26-30/V.23-4/99 belum dilaksanakan secara menyeluruh di Pememerintah Kabupaten dan Kota. hal seperti ini terkesan pemerintah kurang serius menangani CPNS Katagori 2. sejak Pengumuman Hasil Tes K2 dipublikasikan yang hasilnya disebut sebut telah final ternyata belum final. Pemberitaan masih banyak melukai perasaan seluruh CPNS K2 yang dinyatakan LULUS TES.mulai dari pemberitaan data yang dimanipulasi, data siluman, data bodong dan sebagainya. sangat disayangkan bila tuduhan tersebut bersumber dari provokator yang terorganisir yang sengaja menghancurkan system yang telah berjalan apik di lembaga pemerintah seperti Menpan dan BKN Pusat.BKN Pusat harus bijaksana dan dapat membedakan mana yang benar dan mana yang fitnah terkait pengaduan CPNS K2 yang lulus tes. Semuanya tergantung pemerintah untuk memilih “mengurus provokator atau menuntaskan CPNS K2″.Hingga saat tulisan ini dipublikasikan, terkesan banyak oknum mencela hasil pelaksanaan CPNS K2.sangat disayangkan celaan tersebut menggelinding seperti bola berduri yang melukai hati nurani anak negeri yang siap mengabdi pada negeri yang berazaskan Pancasila.Sejak BKD diseluruh Kabupaten mengumumkan Daftar Nominatif Tenaga Honorer K2 hingga Pengumuman Hasil Tes K2 secara nasional,pengumumnya mempunyai Kekuatan Hukum. Yang lulus tes CPNS K2 jangan ditelantarkan terkatung katung,lebih cepat verifikasi dan pemberkasannya lebih baik. Admin Aspirasi Guru.

Penyaluran Tunjangan Guru Dijadwalkan Akhir Maret 2014

Jakarta, Kemdikbud — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) jadwalkan penyaluran tunjangan guru pada akhir Maret 2014. Ada tiga jenis tunjangan yang akan disalurkan, tunjangan profesi guru non PNS, tunjangan kualifikasi guru yang melanjutkan pendidikan ke S1, dan tunjangan guru daerah 3T.

“Untuk tunjangan guru PNS penyalurannya menggunakan mekanisme transfer daerah. Kami selalu koordinasi dengan kabupaten kota supaya yang di daerah juga bisa diselesaikan,” demikian diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, pada jumpa pers penutupan Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan (RNPK) 2014, Jumat (7/03/2014) di Jakarta.

Mendikbud mengatakan, sejak 2013 lalu mekanisme penyaluran tunjangan guru dibuat sistematis agar pencairan triwulan pertama bisa tepat waktu di bulan Maret. Seluruh data saat ini sedang diverifikasi untuk memastikan guru penerima tunjangan memenuhi persyaratan, termasuk persyaratan minimal 24 jam mengajar.

“Akhir Maret itu pula guru-guru sudah bisa lihat, apakah tunjangannya sudah bisa disalurkan, melalui web kemdikbud,” terangnya.

Untuk urusan hutang piutang tunjangan yang belum tersalurkan di tahun sebelumnya, Mendikbud menjelaskan saat ini sedang diselesaikan oleh BPKP dan inspektorat Kemdikbud. Pemerintah, kata dia, memiliki komitmen untuk menuntaskan hak para guru tersebut.

“Jika hasil audit sudah rampug, maka sesegera mungkin disalurkan hutang piutang itu,” katanya.

Mendikbud mengatakan, pemberian tunjangan bagi guru ini bukan sekadar pemberian hak para guru. Ada konsep segitiga yang saling berhubungan. Para guru, kata Mendikbud, harus ditingkatkan kapasitas dan profesionalitasnya. Konsekuensi kenaikan kapasitas tersebut adalah meningkatnya kinerja guru.

Peningkatan kapasitas guru akan diukur dengan instrumen pengukuran kinerja guru yang saat ini sedang disiapkan oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan, Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK-PMP).

“Dari pengukran kinerja guru ini, akan meningkatkan konsekuensi karir yang berimbas pada kesejahteraan guru. Kita tidak ingin melepaskan guru dengan kapasitas yang kurang,” tandasnya. (Aline Rogeleonick)

URL : http://kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/2286

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 38 pengikut lainnya.